Sajak-sajak Ahmad Isro’il

Kerinduan

Bapak…..
Marahmu…
Keringatmu
Senyummu
Kerasnya tanganmu
Diammu

Sekarang … dan sekarang…
Engkau tak lagi seperti dulu.
Nasihatmu.
Ada dalam kerinduanku
Tetesan keringatmu selalu ada setiap perjalanan hidupku

Tugas beratmu telah engkau lalui
Satu pelukan terakhirku..
Hari itu…
Tangisku…
Air mata kakak-kakak
Air mata emak
Pecah dan tumpah di hari itu

Inginku tak rela…
Inginku tak boleh…
Pecipta memanggil engkau
Bapak …

Engkau bapak terhebat bagi anakmu ini
Petani desa yang punya cita-cita besar untuk penerusmu
Semangatmu masih ada dalam wisudaku
Semoga ini jariyah bagimu

Kerinduan
Kesedihan
Kehilangan
Salam rindu dari anakmu
Semoga Allah mengampuni dosa dosa bapak
Salam Rindu dan Hormat dari anakmu

05 Meiku

05 Mei 2018
Kehidupan dalam Do’a
Mengalirkan Bahagia dalam setiap langkah
RidhoMu…
Ridho Wali…
Ridho Keluarga…

Do’a keberkahan
Do’a kebahagiaan
Do’a keselamatan
Dan semua Do’a yang dikumandangkan
Do’a terindah dari senyum emak bapak
Do’a terbaik dari mereka

Mengantarkan putranya melangkah
Mengantarkan dengan airmata bahagia
Mengantarkan dengan senyum merona
Mengantarkan dengan keihlasan
Menggandeng anak yang dulu paling engkau manja
Sekarang engkau lepas untuk menggandeng perempuan pilihan

Sekarang kumulai merangkak
Meniti masa depan yang penuh ceritamu
Tahun ini.
Tahun depan.
Dan tahun-tahun yang akan datang
Akan kugandeng dua perempuan
Satu perempuan hebat yang engkau pilih menjadi ibuku
Satu perempuan yang engkau restui menjadi calon ibu dari anak-anakku

Jalan liku akan datang
Ujian pasti dengan sekutunya
05 Mei 2016 hari bahagia untuku
Untukmu
dan untuk mereka yang tersenyum ikhlas
Setiap bahagia ada cerita
Setiap cerita ada duka
Janji Suci karena ada ridhoMu

*Penulis adalah guru matematika SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan dan dosen fakultas MIPA Universitas BIllfath Siman

Gudohi Kanca Ulang Tahun

Dening : Aidatur Runis

Jenengku Aida, aku duwe kanca jenenge Disca. Lha wektu iku Disca lagi ulang taun sing kaping pitulas. Salah sawiji kancaku ana sing duwe ide ngrayakke dina bebungahe Disca. Ide iku banjur disampekake nang kanca-kancaku kabeh. Dilalah kanca-kanca ya pada setuju kabeh. Itung-itung gawe seru-seruan.

Isuk e wancine sekolah. Nalika pelajaran olahraga nang lapangan, ana materi latihan ninju samsak. Siji-siji kancaku dikengken ninju samsak dening Pak Sukur. Lha pas tutuk jenenge Disca niku, Pak Sukur disanjangi kanca-kanca yen wayahe Disca aja oleh leren ninjue sampek suwe.

“Lho, kenapa kok dikengken suwe, gak sakno, Tha?” pak sukur takon. Kanca-kanca pada jawab, “Ngeten, Pak, Disca niku lagi ulang taun. Arep digudohi mboten napa-napa kok, Pak.”
Kanca-kanca pada guya-guyu dewe amerga seneng ndelok Disca sing ora mandek-mandek ninju samsak. Nah, aku sing paling ketok bungah tinimbang kanca-kanca. Dumadakan Disca ngewasi aku. Banjur dewek e katon nesu karo terus ninju samsak.

Aku karo kanca-kanca ngirane gak bakal dadekake Disca nesu. Dumadakan Disca marani aku kaya dendam banget. Senajan niatku mung arep nggudohi Disca amarga ulang taun nanging jebule ide kasebut gawe Disca dadi depresi lan nesu.

Pungkasane, Disca ngajak padu karo aku nang tengah lapangan. Senajan akeh sing ngguyu dheweke nanging aku dadi target. Nalika semana suwasana seneng dadi tegang amarga ana padu.
“Lapo kok rika seneng banget nek aku soro,” Disca ngomong kaya mangkana nalikane padu karo aku. Terus aku jawab, “Lah rika lho ulang taun, tak piker ya bakal seneng yen digudohi kanca-kanca. Tibak e rika malah ngamuk. Ambek an lho sing guyu rak gak aku thok, tapi aku sing rika salahke.”

Sawise padu, Disca nangis lan ditekani guru. Aku thok sing dikengken njaluk sepura padahal sing guyu Disca ya akeh. Akhire, aku ngalah ae, aku jaluk sepura marang Disca. Piye maneh, sing penting aku lan kanca-kanca bali rukun maneh.

*Panulis sakmenika ngancik ing kelas XII MIPA SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan

Angen-angen

Oleh : Ki JD

Setelah sekian lama merundung diri dalam ruang senyap sendiri, meneruskan lakon yang belum usai. Dalam suatu perjalanan, terbesit sebuah keinginan untuk sekadar ngolah pikir bareng para panakawan. Gayung bersambut. Di pagi setengah siang, ada warta kalau cak Petruk juga sedang mencari rewang untuk sekedar brainstorming, mentashih ide-ide gila menanggulangi paceklik kerjaan berkepanjangan.

“Lha, selama ini cak Petruk kerja apa?” tanyaku sambil nyeruput kopi hitam wadah cangkir.
“Sembarang, yang penting dapur ngepul, biaya sekolah anak terpenuhi. Intinya kan itu.”
Cak Petruk memang easy going. Menurutnya, Sejudek-judeknya masalah, pasti ada celah solusi. Jika hanya dipikir, toh tidak akan selesai. Besar kecil tarafnya sama. Semuanya butuh solusi.
“Jalani saja, kita kan hanya wayang. Obah sak obah opo jare dalang, rak ngono tho,” ujarnya sambil terkekeh mengisap kretek kondangan.

Udud belum habis sebatang, datanglah cak Bagong, di antara panakawan yang paling mirip dengan mbah semar. Berbeda dengan cak Petruk yang orangnya selalu slengean bin cengengesan, cak Bagong hari ini terlihat serius, wajahnya sangar seperti mau menelan orang. Dikeluarkannya bungkus rokok cap Djamboe Bol dari saku bajunya yang mirip seragam pengairan.

“Eh, ladhalah, peno ngudud maneh, Gong? Katanya sudah pamit undur diri?” Cak Petruk nyamber. Ya, nyamber rokoknya juga.
“Lagi pusing, Gong,” jawab cak Bagong besengut.
Cak Bagong pun bercerita panjang kali lebar kali tinggi tentang problematika yang sedang menyatroninya.

Belum usai cerita cak Bagong dengan lakonnya, cak Petruk nyletuk lagi.
“Hm…ini kayaknya ada yang salah, Gong!” ucapnya serius, gayanya gak mbetahi, kayak filsuf di album photo kenangan.
“Maksudnya, Truk? Kalau ngomong yang jelas”.
“Begini lho, Gong, orang hidup itu pasti ada rumusnya. Ibarat orang jalan, jika tidak mau komet dan selamat, ya ada prasyaratnya. Pertama, jalanmu harus hati-hati, selalu di tepi kiri, tengok kanan kiri kalau mau belok atau nyabrang. Jangan lupa, pastikan, alamat yang dituju tidak keliru…”
“Wah, ilmu baru ini, trus gimana lanjutannya, Cak?” Aku menyela.
“Angen-angen, intropeksi diri, aku saja kalau pas lagi karambol kok kolah-kalah, pasti tak pikir, jangan-jangan wetonku gak cocok di bidang karambol…”
Cak petruk belum selesai ngomong, tercium bau sandal terbakar.
“Huasssemmm….sandalku iku, Gong…”

Pinggir Mbawan, 9 Oktober ’21

*Penulis adalah cantrik dan pegiat diskusi literasi dekontruksi kahanan “Jam’iyah Al Qohwah”.

Inovasi Kegiatan Literasi di SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan

Kegiatan Literasi di SMA Unggulan BPPT Al-Fattah Lamongan menyediakan lima kelas peminatan, yakni puisi, cerpen, novel, biografi, dan bacaan ilmiah.

Setiap peserta didik dipersilakan untuk memilih sesuai minatnya masing-masing. Pada hari-hari biasanya kami berjumpa secara maya dalam ruang Grup WhatsApp. Di sana ada pemberian materi, diskusi, serta penugasan.

Berbeda dengan Rabu, 6 Oktober 2021 kemarin, kegiatan literasi dilakukan secara tatap muka. Meski hanya sesekali dilakukan, kegiatan tatap muka ini menghadirkan semangat kebersamaan serta tentunya menambah motivasi untuk berliterasi.

Berbagai manfaat ternyata telah dirasakan oleh para peserta didik. “Saya dapat banyak kosakata baru serta lebih mudah dalam memahami bacaan. Kemudian, dari novel yg dipelajari saat ini saya mendapat banyak pelajaran hidup,” ungkap Yesenia Salsabila Ma’ruf, salah seorang peserta didik Kelas XI.

Reporter : Nila Rahma, S.Hum. (Guru pegiat literasi SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan)

Sepenggal Kisah

Oleh : Syahidatul Khoiriyah*

Dia sosok perempuan yang sangat istimewa. Tutur katanya begitu indah. Ingin selamanya bersama dengannya. Tapi ada sebuah perjuangan yang memaksa kita berpisah, perjuangan yang tidak tahu kapan selesainya, demi membenahi moral dan bekal hidupku untuk selamanya. Mungkin aku sangat sulit untuk berpisah dengannya tapi aku akan membulatkan tekad untuk menentukan pilihanku, karena hidupku besok akan lebih penting daripada kesenangan sesaat saja. Dan keputusanku sudah meluncur

Berpisah tidaklah mudah. Semuanya berubah, sangat berubah. Mulai dari pertama, yang kutemui setelah membuka mata dari yang biasanya ada yang menyiapkan makan dan perlengkapanku, yang setiap harinya kutemui, bercanda, nonton tv, dan sebagainya selalu bersama, tapi semuanya tidak seperti itu lagi, Sekarang semuanya kulakukan bersama teman-teman yang sebelumnya belum pernah kukenal.

Banyak pelajaran berharga yang kudapatkan. Awal perjuanganku adalah membiasakan diri dari hal-hal sederhana yang belum pernah kulakukan, seperti mencuci baju sendiri, harus antri ketika akan mandi, mengikuti semua agenda kegiatan pesantren dan lain-lain. Namun meski berat, semuanya kulakukan dengan niat ikhlas, berharap esok hari mendapatkan keberkahan. Seringkali beberapa rintikan air mata menggenang di dua pipi, bahkan sampai tidur pun, rintikan tangis masih meluncur deras. Aku tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa semuanya terasa berat seperti itu. Dan hari demi hari pun kulalui. Banyak pengalaman baru yang kudapatkan.

Hari yang melegakan tiba. Aku menengok ke depan dinding tertutup, suasananya begitu damai. Di sana kujumpai seorang lelaki dengan mengendarai sepeda kebanggaannya. Ia lalu menyapaku, aku pun menjawabnya dengan sangat riang dan gembira. Ia memberiku sebungkus jajanan dari rumah. Meski jajanan itu tidak begitu kusuka namun kedatangannya selalu kuharapkan. Ia adalah kakakku.

Ia sebentar saja menemuiku karena ada kepentingan lain yang harus didatanginya. Sebelum berpamitan, ia melontarkan pertanyaan,” Sudah betah, enak, Kan?” ucapnya sambil tersenyum.
Aku bingung menjawabnya karena sebenarnya aku masih belum begitu betah tinggal di pesantren. Akhirnya aku pun pulang ke rumah dengan sangat riang karena akan bertemu kembali dengan seseorang perempuan istimewa yang aku rindukan selama ini.

*Penulis yang kerap disapa “Mbak Syahida” ini dilahirkan di Lamongan, 23 Maret 2005. Ia pernah belajar di SMP Bp Simanjaya (2020) dan ia sekarang sedang belajar di SMA UNGGULAN BPPT ALFATTAH LAMONGAN dan tinggal di Ponpes Al Fattah 2 bersama teman – temannya. Ia adalah orang yang tetap setia berusaha untuk tersenyum walau di kondisi dan situasi apapun.