Kisah Perempuan

Oleh : Drs. S. Helmy T, M.Psi., M.Pd.*

Dikulumnya tiap ludah pada rahimnya. Lalu rimbun senyuman menebar pada tamantaman penuh kembang. Ia memang susah melupakan tapi mudah memaafkan. Dicatatnya tiap nanah luka pada keheningan tilawah. Lalu isaknya membasahi seluruh keping sajadah. Mengadu Tuhan lebih tenang, katanya karena setiap orang yang ia temui tak semuanya ikhlas memberi hati

Bercakapcakap ia dalam keheningan. Sendiri bisa mati tapi kesetiaan yang akan menghidupkan berulangkali. Dalam Tuhan siapa bisa mengalahkan. Lalu pelanpelan ia kumpulkan keberanian itu. Ia benamkan zikir itu pada harum dada penuh cinta. Sungai adalah karibnya tiap malam tiba. Ketika bulan berpendaran di jantungnya ia tak pernah merasa pongah. Merasa paling berwarna dari setiap bunga. Merasa cahaya daripada kejora

Perempuan itu lalu menyiapkan kamar penantian. Tempat ia menunggu kekasihnya dengan rimbun cinta di dada. Alis matanya tersipu. Jatuh satusatu dalam bulir wewangian penuh wudhu. Adakah wewangian yang bisa mengalahkan perempuan yang sedang kasmaran. Pintu tertutup Yusuf pun tak malu diketuk. Lelaki tampan pujaan bulan. Di dadanya degup kencang berhamburan: kekasihku jangan tinggalkan tiap sepi malamku karena pada sekian zikirku tak pernah aku mau mengecewakan Tuhanku

SHT, 141121
#RumahSeni_AstiRadmila

*Penulis adalah guru Bahasa Indonesia SMA UNggulan BPPT Al Fattah Lamongan dan Pendiri dan pengasuh Rumah Seni AstiRadmila

The Power of Casing

Oleh : Ki JD

Tengah hari di bawah rindang pohon waru doyong, cak Bagong mengotak-atik gadget yang baru saja dibelinya, tepatnya hasil tukar tambah, dari konter salah seorang temannya di pasar Wage.
“Hp mu kok diwolak-walik kanggo apa, Gong?” tanya cak Petruk yang risih dengan kelakuan ragil panakawan tersebut.
“Ini lho, mau tak buat facebook an, dari tadi kok muter-muter saja sinyalnya, padahal hp ku ini lebih bagus dari punyaku yang kemarin.”
“Mungkin sinyalnya ngambek, Cak,” aku menimpali.
“Wah, gak mungkin. Ini hp nya lebih mahal harusnya bisa lebih ‘nyaut’. Iki lho, prejengane ae lebih mentereng dari hp lawas,” ujar cak Bagong sambil menunjukkan casing yang mengkilap.
“Berarti durung karuan, Gong, lha pas kamu beli hp itu niat beli fungsi atau prejengan?”
“Ya….beli hp yang bagus, gitu aja.”
“Nah, itu. Ndak ingat pesene romo Semar tha, Gong, jaman kalabendu seperti sekarang ini jangan mudah tergoda prejengan fisik. Mata harus benar-benar jeli. Sekarang ini banyak sekali orang yang tertipu oleh penampilan fisik atau casing saja. Akibatnya ya kayak kasus hp mu itu, mentereng wujude nanging fungsine acakadut,” terang cak Petruk seperti rumus persegi panjang.
“Lha, trus piye, Truk, hp ini tak apake?” Tanya Bagong dlohom.
“Delok en kae ana kirik dlurung nang ngisor ciplukan?” Tunjuk cak Petruk.
“Terus….”
“Sawatke kono. Xixixixi…”
“Hancurittt kowe, Truk….”

***

Don’t judge a book by its cover, sebuah idiom yang sudah lumrah kita dengar perihal sikap awal dalam memandang, menilai dan memproyeksi seseorang, benda bahkan keadaan di luar diri kita. Seringkali mata ini terlalu ngeblur untuk bisa membedakan sesuatu itu apakah ori atau imitasi. Apakah mungkin karena kebeningan hati dan intuisi sudah tidak begitu diugemi lagi. Sehingga terciptalah budaya yang menadrisi, memuja pencitraan casing semata.

“Loyang (seng) diperebutkan dan digadang-gadang, sedang emas dibuang-buang, dikucilkan”, mengolah kata-kata Mbah Nun dalam lirik lagu jaman wis akhir, sungguh sayang seribu kali sayang. Para wayang sudah lupa daratan dan lautan.
Semoga, kita beserta anak cucu, selalu diberikan kekuatan untuk tetap bisa membedakan, mana yang alami, mana yang polesan dari setiap hal dalam rentetan alur lakon hidup yang tersaji. Semoga…

Pojok Omah, 121021

Puisi-puisi Putri Sania

Pilu Tentangmu

Rembulan menari di tengah gelapnya malam
Sarayu meniup merdu
Daksaku seketika membisu
Kala bersua bayangmu

Senyum kemarin bersemi, melekat sempurna terukir di ingatan
Getaran kalbu membuncah
Atmamu telah pergi, lenyap
Hanya babad yang tersisa
Rintik hujan menghilir
Menyisakan duka yang abadi

 

Welcome

Anila berembus tenang menyapa diri
Bersama langit biru yang membingkai

Temani surya di selaksa diri
Entah mengapa seperti ini….
Sepi nan sunyi telah hirap
Kala engkau datang menderap

Aku gusar akan rasa yang terserap
Dan berharap aku tak akan terlelap

Hadir dengan rasa yang terseduh
Semoga kau tak hanya singgah,
Yang hanya semata hadir ‘tuk berteduh

 

Sajak Sang Perindu

Apakah engkau tahu?
Duhai yang selalu kurindu

Lisan ini selalu membisu,
Tak mampu berperang melawan gemuruh syahdu

Hati bergejolak meronta di diriku
Selalu bertanya,
Kapankah ini kan berlalu

Riuh jalanan bersenandung luas di telinga
Menemani nafsi ini meminta

Apakah engkau tahu?
Asa di kalbu ini sedang bergulat,
Menunggu engkau yang tak kunjung terlihat

 

Tentang Penulis : 

Putri Sania, kelahiran Mayong, Karangbinangun, Lamongan. Suka menulis dan melukis. Saat ini masih belajar di kelas XII MIPA SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan.

Pejuang Impian

Oleh : Brilliana Ramadhani Zahrah

Seperti biasa, minggu pagi ini aku membantu ibu mengantarkan kue-kue buatanya ke beberapa warung. Aku selalu menemani ibu di sela-sela hari libur sekolah. Sudah menjadi rutinitas ibu setelah sepeninggal bapak, ia harus banting tulang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami. Setelah banyak warung yang kami lalui kami bergegas pulang. Cuaca siang ini sangat panas, tak kuasa aku melihat keringat ibu bercucuran menggambarkan rasa letih yang sama sekali tak dirasakannya. “Kapan aku bisa membalas semua jasa Ibu?” ucapku dalam hati.

Sesampainya di rumah aku merebahkan tubuhku di atas tikar, menatap atap genteng yang kian usang dan mengingat kenangan bersama bapak dulu. “Bapak, mungkin jika engkau masih hidup, hidup kami tidak akan sesulit ini.” Fikiranku berandai tak tentu arah, lantas aku sadar yang aku katakan tidaklah baik. Semua ini adalah takdir yang sudah Allah tetapkan. Aku menggeleng dan beristighfar.
“Ais…” panggil ibu mengagetkanku. Aku menoleh kepadanya.
“Iya bu.”
”Lekaslah mandi, sholat dan makan, Nak, setelah itu segera beristirahat, Ya,” ucap ibu padaku.
“Baik, Bu,” sahutku.

***

Aku terbangun dari tidur siangku dan segera mencari ibu.
“Bu…”
Tidak ada sahutan. Aku mencari ibu di sekeliling rumah dan terus memanggilnya, entah mengapa jika terbangun dari tidur dan tidak melihat ibu aku merasa khawatir. Ternyata ibu sedang mempersiapkan sabit untuk dibawa ke sawah. lega rasanya melihat ibu baik-baik saja.
“Ibu…” panggilku dengan tersenyum dan berjalan mendekatinya.
“Ada apa, Nak, bangun-bangun sudah teriak-teriak,”jawab ibu.
“Aku mencari ibu dari tadi, ternyata ibu di sini. Membuatku takut saja,”
Ibu tertawa mendengar penjelasanku.
“Dari tadi ibu di sini, Nak, menyiapkan peralatan untuk dibawa ke sawah, memangnya kamu takut ibu kenapa? diculik orang?” terang ibu sambil tersenyum.
“Ih, Ibu”.

Sore ini kami akan pergi ke sawah, ibu dengan peralatan bertanamnya dan aku dengan buku tulis kesayanganku. Di dalam buku ini banyak sekali cerita pengalaman yang aku alami, aku selalu menulisnya dalam buku, karena bagiku pengalaman adalah moment berharga yang tidak boleh terlupakan. Sesampai di sawah aku membantu ibu mencabuti rumput sembari mengamati tetumbuhan dan binatang-binatang seperti capung, yuyu, belut dan lain-lain. Kuamati gerak belut yang mirip seperti ular, sekilas terkesan menjijikkan namun bagi anak desa sepertiku, belut amatlah bermanfaat. Aku segera menangkap dan menunjukkanya pada ibu.

“Bu, lihatlah! aku menemukan belut, pasti enak kalo dimasak apalagi dibuat bakso nyam-nyam enak,”kataku. Ibu yang melihatku hanya bisa tersenyum mendengar ucapanku.
“Ada-ada saja kau ini, Ais, digoreng saja sudah lebih dari cukup.”
“Tapi dibuat bakso pasti jauh lebih enak, Bu, bakso dari daging belut”
“Sudah-sudah, Ais, ayo bantu ibu lagi,” seru ibu.
“Hehehe iya, Bu”jawabku.

Saat hari sudah mulai petang, dan burung-burung telah kembali ke sarangnya, aku dan ibu memutuskan pulang. “Senja sore ini sangat indah,” batinku. Aku tersenyum memikirkan enaknya makan malam nanti dengan belut goreng hasil tangkapanku tadi. Suara adzan berkumandang setiba aku di rumah. Aku lekas mandi dan sholat jamaah magrib bersama ibu. Selesai sholat, ibu mengajakku makan. Aku sangat lahap menyantap suap demi suap nasiku. Masakan ibu benar-benar enak.
“Ais…”panggil ibu disela-sela makanku.
“Iya, Bu…”jawabku.
“Sebentar lagi kau akan lulus sekolah, Nak, belajarlah sungguh-sungguh. Ibu akan berusaha mencari uang tambahan untuk biaya kuliahmu nanti”.

Mendengar hal itu membuatku sedih, sebenarnya kuliah bukan lagi tujuan utamaku saat ini, meskipun aku tahu akan banyak mimpi yang akan terpendam jika aku memutuskan tidak kuliah. Namun bagiku membantu ibu di rumah jauh lebih penting, apalagi usia ibu yang sudah tidak mudah lagi. Aku sudah memikirkan hal ini sejak lama, aku akan mencari pekerjaan setelah lulus nanti agar ibu tidak perlu capek-capek bekerja.
“Tidak perlu, Bu, Ais tidak ingin kuliah, Ais ingin menemani dan membantu ibu di rumah saja, Ais tidak ingin melihat ibu banting tulang hanya untuk membiayai Ais kuliah,” ucapku lirih.
“Tidak, Ais, kamu harus kuliah, cukup ibu yang kehilangan mimpi ibu dulu, kamu jangan, masa depan ada di tanganmu, ibu percaya akan ada jalan yang Allah beri bagi hambanya yang berusaha,” jawab ibu dengan wajah yang sangat yakin. Aku hanya menundukkan wajah.

***

Pekan ini sekolah dihebohkan dengan berbagai prestasi siswa yang kian melesat baik di bidang akademis maupun non akademis. Aku merasa malu dengan posisiku yang sama sekali tak membawa perubahan. Aku ingin mengharumkan nama sekolah atas keberhasilanku, tapi apa daya, bakat satu pun tak kumiliki. Aku duduk di samping kerumunan siswa yang bersorak karena satu persatu nama dari teman dekat mereka dipanggil ke panggung untuk diberi apresiasi dari sekolah atas prestasinya.

“ji double o di ji o bi!!! good job…good job oy! good job…good job oy!”teriak salah satu siswa memimpin sorakan disertai gemuruh tepuk tangan yang meramaikan aula. Setelah satu persatu dari siswa yang mendapat prestasi dipanggil, bu Lastri mengucapkan banyak-banyak terimakasih kepada siswa-siswi yang telah mengharumkan nama sekolah.
“Teruslah semangat anak-anakku, asah bakatmu tunjukkan prestasimu, jangan pernah menyerah saat kau mengalami kegagalan, keberhasilan bukan milik orang yang pintar saja, namun keberhasilan adalah milik siapa yang senantiasa berusaha,”ucap bu Lastri. Mendengar ucapan bu Lastri siswa-siswi kembali bersorak mengobarkan semangat.
“Mohon perhatianya sebentar, pak guru akan memberikan informasi tentang lomba karya ilmiah yang akan diadakan di salah satu universitas ternama di Indonesia, barangkali ada salah satu dari kalian yang berminat untuk ikut, silahkan melihat juknis perlombaan di pamflet yang akan pak guru tempel di mading sekolah setelah ini,” terang pak Andi.

Setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku segera menuju ke mading untuk melihat pamflet yang tadi pak Andi infokan. Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. “karya ilmiah adalah salah satu jalan yang bisa membuatku berprestasi seperti mereka,”pikirku.

Sesampai di depan madding, aku membaca satu persatu persyaratan dan tema yang dimuat dalam lomba, mulai kesehatan, pangan, teknologi, pendidikan dan lain-lain. Aku sempat berpikir karya apa yang akan aku buat dalam lomba ini sembari menyusuri jalan setapak menuju rumah. Aku teringat dengan ucapanku pada ibu minggu lalu saat aku menemukan belut. Aku lantas menemukan ide. “Iya…! Aku akan membuat bakso dari daging belut,”batinku. Aku tersenyum sepanjang jalan membayangkan saat nanti aku naik ke panggung dan mendapat apresiasi seperti teman-teman lainya, “Duhh betapa senangnya,” ucapku.

***

Satu bulan berlalu, aku telah menyelesaikan makalah atas bimbingan pak Teguh. Pak teguh juga yang menemani serta mengarahkan saat proses pembuatan bakso. Alhamdulillah, bakso belut yang kubuat berhasil dan memiliki cita rasa yang enak dan sehat untuk tubuh. Makalah ini akan segera aku kirim karena satu minggu lagi sudah batas waktu pengumpulan. Aku berharap penuh semoga perjuangan kerasku selama ini mendapatkan hasil dan bisa membanggakan ibu.
“Ibu, Ais minta doanya, Ya, semoga karya Ais bisa masuk babak final,”ucapku pada ibu.
“Do’a ibu akan selalu menyertaimu, Nak,”jawab ibu.
“Terimakasih, Bu”.

Tiga minggu kemudian, pengumuman hasil seleksi telah dibagikan. Aku segera melihat daftar namaku di link yang tertera di bio instagram kampus penyelenggara. Alhamdulillah, aku masuk babak final, semua ini tak lain karena kehendakMu ya…Allah. Aku mengucap syukur berkali-kali. Tak sabar rasanya memberi tahu kabar gembira ini kepada ibu.
“Alhamdulillah, Bu, karya Ais masuk babak final, Ais senang sekali,”ucapku.
“Alhamdulillah, semoga kamu mendapat juara 1, Nak,”jawab ibu.
“Aamiin, Bu”.

***

Hari ini adalah hari yang menegangkan. Aku baru saja presentasi mengenai penelitianku di hadapan para juri. Mereka bertanya tentang alasan mengapa aku memilih ide ini, apa saja kandungan dan manfaat daging belut bagi kesehatan dan lain sebagainya. Alhamdulillah aku bisa menjawab satu persatu pertanyaan yang mereka ajukan, karena jauh-jauh hari aku sudah mempelajarinya bersama pak Teguh. Pengumuman juara akan diumumkan satu minggu lagi. Apapun hasilnya ku pasrahkan kepada Allah, aku percaya Allah pasti akan memberi yang terbaik bagiku.

Akhirnya, waktu yang kutunggu-tunggu telah tiba, berdasarkan pengumuman hasil seleksi babak final ternyata aku mendapatkan juara pertama. Aku benar-benar senang hingga tak kuasa air mataku menetes. Aku masih tak percaya usahaku selama ini membuahkan hasil. Namaku dipanggil untuk maju ke panggung menerima hadiah. Aku mendapatkan uang, piala dan piagam penghargaan. Aku tersenyum lebar bersama pak Teguh selaku pembimbingku dan juri-juri lainya untuk diambil gambar. Aku akan mengabadikan pengalaman berhargaku ini di buku tulis kesayanganku. Berkat bimbingan pak Teguh, aku menghasilkan banyak karya dari ide-ide yang kumiliki, karya-karyaku ini menjuarai di berbagai event perlombaan baik tingkat kabupaten maupun nasional. Berbagai sertifikat yang kuperoleh berhasil membantuku masuk perguruan tinggi negeri lewat jalur prestasi. Alhamdulillah aku bisa kuliah dan menggapai mimpiku.

Tentang Penulis :
Brilliana Ramadhani Zahra, lahir di Tuban. Saat ini duduk di kelas XII MIPA SMA Unggulan BPPT Al Fattah Lamongan. Menulis dan menggambar adalah hobinya. Bagi Andan, menulis adalah suatu kebahagiaan tempat menorehkan perasaan dan imajinasi di dalamnya.

Puisi-puisi Ilyas

Oleh : Ki Ilyas

EMPAT PONDASI

Dengan ilmu hidup menjadi mudah
Dengan iman hidup menjadi terarah
Dengan Seni hidup menjadi indah
Dengan Cinta hidup menjadi bersemangat dan bergairah
Dengan pondasi tersebut apapun yang kita lakukan dalam hidup dan kehidupan akan terasa berwarna warni dengan nuansa pengetahuan, iman, keindahan Cinta dan kasih sayang terhadap sesama makhluk hidup di alam semesta raya ini

CINTA TANPA BATAS

Jika manusia menyayangimu, ketahuilah bahwa terkumpulnya cinta seluruh manusia di bumi ini tidak akan pernah menandingi Cinta Tuhan terhadapmu, Cinta yang Tanpa Batas

MUSUH SEJATI

Tuhan mengelilingimu dengan tentara kata-kata
Dengan itu, engkau bisa menolak atau menyergap kekuatan musuh
Namun, musuh dari dalam adalah musuh sejati
Jika engkau bisa menundukkan musuh yang ada di dalam,
musuh di luar bukan apa-apa

WAHAI JIWA

Wahai jiwa-jiwa yang telah lama tertidur
Bangkit dan kembalilah menghibur
Melebur pedih kalbu itu dengan santun tutur
Mengulur genggam bagi raga yang tersungkur

Duhai pena yang terlalu lama mengering
Menarilah lagi diatas lembar bening
Biarkan gores-gores tinta kembali bersanding
Memahat elok ringkasan kata tanpa geming
Lihat bagaimana riuhnya gelombang rindu
Menyerupai genderang saling beradu
Seelok petikan dawai berdenting merdu
Melantunkan melodi penghapus sendu

 

Tentang Penulis :

Guru mata pelajaran Matematika SMA Unggulan BPPT Al Fattah :Lamongan